Buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian"

indi's picture

Sebagai sebuah hadiah ulang tahun dari kakak iparku Siska, buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian" karya André Vltchek & Rossie Indira mulai saya baca hari ini dalam perjalanan ke kantor. Hanya dalam beberapa halaman pertama, buku tersebut sudah teramat sangat menggugah perasaan saya.

Sebagai seorang pengagum Pramoedya Ananta Toer (Pram) dan aneka karya tulisnya, berikut saya ingin berbagi sedikit isi buku tersebut dengan harapan agar anda juga menjadi tertarik untuk membacanya.

Pada halaman XXVII, André Vltchek menulis tentang Pram sebagai berikut:

"Kelihatannya semua harapannya kepada Indonesia sudah hancur. Pada suatu hari dia mengatakan bahwa masa penjajahan Belanda dan Jepang masih lebih baik daripada masa penjarahan membabi-buta yang dilakukan oleh kaum elit Indonesia. Pernyataan ini sangat mengagetkan, dan kami ingin memastikan bahwa kami mengerti dengan benar: Pernyataan ini sangat tidak disangka keluar dari mulut salah satu pendiri negara ini, atau datang dari seorang lelaki yang sangat membenci kolonialisme! Tapi Pram berkeras dengan pendapatnya tersebut: Jawanisme dan kolonialisme Jawa sudah bertindak jauh lebih brutal terhadap penduduk yang tinggal di negara kepulauan yang luas ini daripada yang dulu dilakukan oleh penguasa penjajah asing."

Apabila kita kembali masalah yang lebih besar yang Pram sebutkan diatas dalam perihal "pengembangan sikap kebangsaan" (atau "nation building"), saya bisa merasakan apa yang Pram rasakan. Saya bisa ikut membayangkan betapa kecewanya Pram terhadap bangsa ini yang teramat hancur budaya dan moral nya (catatan: bukan dalam agama) - Pram ikut bertempur melawan penguasa asing di tahun 1945.

Pada halaman 5, Pram menjawab pertanyaan André s.b.b:

"Problem terbesar dari sebuah negara baru adalah kurangnya pendidikan, bahkan kurangnya pemahaman akan pentingnya pendidikan. Individualitas tidak diajarkan dalam keluarga kita. Keberanian individual tidak pernah ada, kecuali di Aceh. Yang ada adalah semangat kelompok saja. Masyarakat kita berani hanya kalau mereka berada dalam satu kelompok. Hasilnya, ya, seperti yang banyak terjadi sekarang ini: tawuran desa lawan desa, kampung lawan kampung, pelajar lawan pelajar, bahkan tawuran mahasiswa lawan mahasiswa! Semua ini begini karena kurangnya individualitas dan kepribadian."

kemudian pada halaman 6, Pram berkata:

"Saya sudah berpikir lama sekali: mengapa Indonesia jadi begini? Mengapa bangsa ini hanya berani ketika berada dalam kelompok dan tidak punya individualitas dan identitas? Hal-hal inilah yang menjadi kelemahan negara kita, kelemahan yang dapat membawa kita ke dalam kehancuran total!"

Sesuai dengan yang saya alami selama mengenyam pendidikan dasar, menengah maupun atas, apa yang Pram sebutkan memang benar. Saya ingat dikala ada tawuran antara SMAN 70 (saya disana dari kelas 1 sampai 2 saja), dengan sekolah-sekolah lain, hampir tidak pernah ada perkelahian "satu lawan satu". Bahkan hampir setiap bulan ada "acara" persiapan diserang STM atau menyerang SMA lain dan hampir semua laki-laki diharapkan untuk mendukung "solidaritas" SMA. PS: Sementara saya lebih suka mendekati perempuan-perempuan cantik di paduan suara :)

Saya selalu menghindari tawuran-tawuran beridentitas massa karena menurut saya merekalah yang pengecut karena tidak berani maju satu per satu. Seingat saya, saya pernah berkelahi waktu SD lawan teman sekelas saya (Dudi) yang dibantu kakaknya (Asep), dan waktu SMA kelas 2 juga pernah berkelahi dengan seorang "playboy" (Indra) dan dilakukan pada jam istirahat. Mengenai siapa yang menang mungkin itu tidak perlu dibahas karena menurut saya dalam setiap perkelahian kelas sekolahan kedua belah pihak itu kalah secara moral.

Sekedar kilas balik: Mungkinkah karena Bapak saya (Hindro) selalu mendidik kami bertiga (Anggi, Indi & Yodhi) untuk belajar gulat waktu TK (dilakukan di ruang tamu rumah hampir setiap malam), karate dan tennis waktu SD dan kemudian golf waktu kuliah (yang semuanya termasuk dalam kategori "individual sport"). Saya sadar bahwa berkali-kali saya coba lakukan olahraga beregu seperti bola basket (klub di Bulungan) namun saya merasa tidak pernah puas karena mungkin darah saya lebih individualistik daripada teman-teman sebaya yang lebih doyan main bersama-sama (dalam lingkup solidaritas). Kemudian sewaktu saya mulai masuk kelas 3 SMA di Maine saya juga selalu pilih olahraga renang, tennis dan cross-country running, semuanya termasuk "individual sport". Saya rasa segala hal yang Bapak saya ajarkan sewaktu saya kecil telah mempersiapkan saya untuk bersikap individualistik dan percaya diri (walau mungkin nampak terlihat terlalu percaya diri diatas awang-awang apabila dilihat oleh para orang tua dan sanak saudara di Indonesia).

Ada satu hal lagi yang saya betul-betul menggugah nurani saya, yakni mengenai pandangan Pram mengenai budaya nenek-moyang kita yang tanpa kita sadari telah "membiarkan" rakyat tertindas dan menderita berabad-abad lamanya. Berikut ucapan beliau (halaman 120):


"Saya tidak bangga dengan nenek-moyang kita. Semua berantakan. Itu sebabnya mengapa saya masih mengatakan lagi kepada angkatan muda untuk membentuk budaya baru dan lupakan budaya nenek-moyang kita. Memang menyakitkan, tapi saya tidak bermaksud menghasut."

Sekali lagi, saya juga paham sekali mengenai apa yang Pram kemukakan diatas karena memang beliau memendam rasa kecewa yang amat dikarenakan sepanjang hidupnya berada dalam belenggu penjajahan oleh bangsa asing maupun oleh penguasa yang berprinsip "Jawanisme" (yang telah secara berhasil membunuh konsep dan semangat "nation and character building" ciptaan Soekarno).

Nah, apakah itu Jawanisme? Untuk yang penasaran, silakan baca bukunya dan saya tunggu pendapat/tanggapan anda mengenai Jawanisme yang Pram bicarakan secara lugas. Mungkin anda punya mendapat mengenai perbedaan budaya kerajaan Jawa (Jawanisme) dengan budaya kerajaan Thailand.

PS: Terima kasih, Siska! Sudah waktunya kita sebarkan buku ini ke pelosok Nusantara. Usia Pram mungkin sudah mendekati ujung namun pengaruh tulisannya harus tetap kita tumbuhkan. Kalau buku ini sudah diterbitkan dalam bahasa Spanyol saya akan bawa ke Havana, Cuba sebagai hadiah bagi Fidel Castro.

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.