Article in Cita Cinta

rani's picture


Jelajah Hemat Austria

Jalan-jalan ke Eropa tidaklah harus selalu dengan mengikuti paket wisata. Dengan internet, anda dapat mempersiapkan rencana perjalanan jauh-jauh hari sebelumnya. Selain lebih hemat, anda dapat merencanakan rute sendiri.


Persiapan

Musim gugur tahun lalu, kami menjelajah Austria. Dua bulan menjelang keberangkatan, kami mulai merencanakan perjalanan melalui internet dengan bantuan Google. Dengan bantuan internet kami dapat membandingkan harga-harga tiket pesawat, akomodasi, kendaarn umum, dan sewa mobil yang termurah, lantas kami melakukan pemesanan dengan menggunakan kartu kredit. Bahkan kami dapat mengukur jarak tempuh perjalanan hingga berapa liter bensin yang akan terpakai. Kemudian kami pun menghubungi semua teman dan saudara yang berada di tempat tujuan, baik untuk meminta informasi atau untuk menumpang menginap. Dengan demikian, selain dapat merencanakan perjalanan dengan mendetail tanpa harus meninggalkan rumah, kami pun dapat lebih menghemat waktu dan uang.

Meski indah dinikmati sepanjang tahun, mengunjungi Austria di seputar natal dan tahun baru akan membawa anda jauh lebih dalam ke dalam tradisi mereka. Masa natal adalah masa istirahat dan merayakan hasil kerja musim-musim sebelumnya, sehingga anda dapat menjumpai lebih banyak atraksi gratis (meski harga-harga barang dan penginapan sedikit lebih mahal). Namun, siang hari di bulan Desember berlangsung sangat pendek, karenanya maanfaatkanlah siang hari semaksimal mungkin.

Selama bulan Desember, anda dapat menjumpai pasar natal (Christkindlmarkt) di lapangan kota di beberapa kota di Austria, seperti Wina atau Salzburg. Berbagai jenis sajian natal tradisional disajikan di pasar ini. Selain itu, dapat dijumpai konser lagu-lagu natal gratis di pasar ini dan ada pula diorama kelahiran Yesus. Tradisi pasar natal telah berlangsung sejak abad ke 7 dan hingga sekarang menjadi atraksi khas di seputar bulan Desember. Jangan lewatkan atraksi gratisan tradisional ini apabila anda mengunjungi Austria menjelang natal.


Wina - Tak Harus Mahal

Setibanya di bandara Schwechat, Wina, kami langsung menuju kediaman saudara kami dengan menggunakan kereta api dan trem. Berkat website info transportasi umum Wina, kami tidak tersesat.

Menjelajah kota tua Wina tidaklah harus mahal, apalagi jika dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum. Memilih objek wisata yang tidak gratis haruslah teliti dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia, agar tidak membuang uang percuma karena tidak sempat menikmatinya. Manfaatkanlah objek wisata gratis sedapat mungkin.

Atraksi gratis di kota Wina adalah gereja-gereja tua, termasuk Katedral Stephandom yang terkenal. Selain itu kami pun pergi mencuci mata melintasi kawasan perbelanjaan mewah seperti Graben atau Kohlmarkt, keluar masuk butik-butik terkenal meski tanpa membeli.

Selain itu taman-taman dan taman istana di Wina pun dapat dimasuki secara gratis. Namun untuk memasuki gedung istana dan museumnya perlu membeli tiket. Kawasan istana Hofburg dengan patung-patung orang terkenal di tamannya, dan istana Schonbrunn merupakan atraksi utama di Wina. Taman bermain Praterstern juga merupakan objek kunjungan yang menarik. Jangan lupa untuk naik roda kincir (Wiener Riesenrad) di taman ini dengan menggunakan gerbongnya yang antik. Roda kincir ini dibangun tahun 1897. Dari atas puncak roda kincir ini anda dapat menikmati pemandangan kota Wina.

Berkunjung ke Wina tidaklah lengkap tanpa menikmati kue khas Wina yaitu Sacher Torte, yang didapat di café Hotel Sacher. Kue manis yang terbuat dari coklat dan selai aprikot ini sangat cocok dinikmati dengan secangkir kopi khas Wina (Kleinbrauner). Suasana café dengan interior klasiknya sangatlah nyaman untuk berlama-lama di sana.

Wina juga terkenal akan operanya. Gedung Opera Nasional Wina berlokasi tidak jauh dari Hotel Sacher di kawasan kota tua. Ternyata, menonton opera tidaklah harus mahal, apabila anda rela meluangkan waktu untuk mengantri tiket murah yang dijual sejam sebelum pertunjukan dimulai. Tiket murah ini adalah tiket duduk yang tersisa dan tiket berdiri. Tiket duduk sisa hanya dapat dijual kepada yang membawa kartu pelajar. Meskipun tiket yang didapat murah, anda pun tetap harus berpakaian cukup rapi (tidak bercelana pendek atau bersandal jepit). Tidak perlu takut tak dapat menikmati opera dengan bahasa asing, karena di setiap tempat duduk dan tempat berdiri terdapat layar LCD yang menampilkan sub-title opera secara ‘live’. Kami beruntung bisa mendapatkan tiket berdiri di lokasi Stehparterre yang persis berada di depan panggung di belakang kursi-kursi termahal.


Hallstatt – Pesona Tradisional Tepi Danau

Hari berikutnya kami mengambil mobil yang telah kami pesan melalui internet. Menurut pengamatan kami, untuk jangka waktu liburan yang singkat dan tidak jauh, menyewa mobil adalah pilihan yang lebih murah dan lebih praktis daripada bepergian menggunakan kereta api. Lagipula, mobil sewaan memungkinkan kami mengunjungi pelosok-pelosok terpencil sepanjang perjalanan, yang tidak mungkin dilakukan apabila bepergian dengan grup wisata. Selain itu, berkendara di Austria amatlah mudah karena petunjuk jalannya amat jelas.

Hari itu kami berkendara dari Wina ke danau Attersee lewat kota Linz. Kami mendapatkan akomodasi di sebuah villa di pinggir danau atas kebaikan seorang teman. Kebetulan, tetangga villa itu adalah seorang petani, sehingga kami berkesempatan untuk melihat peternakan mereka dan juga bagaimana mereka memproses hasil taninya. Bahkan pak tani itu memberikan oleh-oleh dua liter susu segar yang kaya krim dan selai buatan rumah.

Pada malam harinya, kami dijamu oleh teman kami di restoran tradisional Austria di desa itu, dan ini adalah kali pertama mencicipi makanan tradisional Austria, yang ternyata amat kaya variasi dan rasa. Untuk makanan pembuka, disajikan Kreuterfritattensuppe (sup dengan irisan kue dadar) dan Leberknoedelsuppe (sup dengan bakso hati sapi). Makanan utamanya adalah Knoedelgeheimnis (berbagai macam “dumpling” tradisional), Putenspeiss (sate kalkun), dan Hirschbraten (daging rusa bakar) disajikan dengan salad dan Sauerkraut (kol asam). Betapa lezat dan mengenyangkan! Makan malam ditutup dengan Eispalatschinken (kue dadar dengan eskrim dan krim kocok) dan satu sloki Schnapps buatan sendiri (minuman fermentasi dari buah-buahan atau kacang).

Pagi harinya, kami dijamu dengan sarapan mewah khas Austria, yang terdiri dari berbagai jenis roti (roti akar, roti ‘sourdough’, roti ‘rye’, roti yoghurt, dan roti kecil ‘Broetchen”), berbagai jenis antipasti (tomat kering, acar bawang, acar zaitun), berbagai jenis daging awetan (susis kalkun, wurst putih sapi muda), berbagai jenis keju (keju gembala, keju emmental) disertai selai dan mentega buatan rumah. Susu pemberian pak tani semalam kami jadikan campuran kopi dan teh.

Hari itu kami semua berkendara menuju desa Hallstatt di tepi danau Halstattsee, desa penghasil garam yang juga merupakan cagar budaya. Desa ini terdiri atas bangunan tua dengan arsitektur tradisional Austria dan dibangun di atas tebing yang kaya akan mineral garam. Bahkan, kristal-kristal garam dijual sebagai cenderamata. Museum desa ini – yang disponsori oleh Unesco - mempresentasikan sejarah dan penghidupan warga desa ini secara lengkap. Lantas kami melewatkan waktu makan siang dengan menikmati kue-kue tradisional dan meminum teh kembang hangat.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Mondsee. Gereja Mondsee digunakan di dalam film Sound of Music sebagai gereja pernikahan Maria dengan Kapten von Trapp. Tidak jauh dari Gereja Mondsee terdapat museum Rumah Asap Tradisional (Rauchhaus). Rumah tradisional ini dirancang untuk menahan asap di dalam rumah sehingga bahan makanan berupa daging-dagingan menjadi lebih awet. Rumah asap ini terletak di tengah padang rumput di puncak bukit Mondsee dengan pemandangan kota di kaki bukitnya.

Berkendara di pegunungan, pedesaan, dan danau di Austria menjelang natal akan membawa anda menuju pemandangan alam bersalju yang menakjubkan, yang tidak bisa dijumpai di Indonesia.


Tyrol – Rumah Petani di Lembah Alpen

Kami melanjutkan berkendara menuju dusun Niederthai, di tengah deretan Ortzal pegunungan Alpen, propinsi Tyrol. Dusun ini sangat terpencil, untunglah kami dapat memesan kamar di salah satu rumah petani melalui internet. Meski terpencil, kamar sewaan kami sangatlah nyaman, dengan kamar mandi pribadi, air hangat, dan pemandangan pegunungan Alpen yang bersalju. Si nyonya tani berkata bahwa kami adalah orang Asia pertama yang mengunjungi desa itu. Beliau menyuguhkan sarapan tradisional yang merupakan hasil taninya.

Sekitar sejam mengemudi dari Niederthai, kami mengunjungi daerah Solden, tempat ski yang populer sepanjang tahun karena salju abadinya. Kami harus mendaki gunung hingga ketinggian 3000m untuk mencapai tempat ski tersebut. Di sana banyak terdapat penyewaan alat ski dan juga sekolah belajar ski. Sayangnya karena sedang hamil, kami tidak bisa turut belajar main ski. Restoran di Solden juga menyajikan berbagai makanan tradisional Austria – seperti Leberknoedelsuppe atau Currywurst - yang menghangatkan badan.

Sepulangnya dari Solden, kami berkendara menuju dusun terpencil lainnya yang bernama Stams. Di dusun ini terdapat biara dengan menara kembarnya yang terkenal, yang dihuni oleh para Bruder yang masih berpakaian abad pertengahan (meski mereka menggunakan alat-alat modern seperti HP atau laptop). Kami menutup hari itu dengan makan malam di sebuah restoran yang berada di dalam bangunan tua yang dulunya adalah bengkel pandai besi. Suasananya amatlah unik, karena restoran ini dihiasi dengan alat-alat pandai besi tradisional. Pemilik restoran ini, Hubert, adalah keturunan ke-14 dari keluarga pandai besi yang tinggal di daerah itu. Hubert melayani para tamu secara langsung dengan kehangatan khas Tyrol.


Salzburg – Tempat Lahir “Malam Kudus” dan “The Sound of Music”

Esoknya kami melanjutkan perjalanan menuju Salzburg. Lagi-lagi berkat internet, kami berhasil menemukan penginapan murah di tengah-tengah kota tua Salzburg, di sebuah bangunan tua yang dibangun sejak tahun 1380. Kamarnya nyaman dan hangat, hanya saja kamar mandinya tidak berada di dalam kamar tidur.

Kendala yang dihadapi di Salzburg adalah mencari parkir murah untuk mobil kami, karena parkir dalam kota sangatlah mahal. Berhubung parkir gratis baru dimulai pukul 7 malam hingga 9 pagi, sementara sebelum jam tersebut parkir di dalam kota terbatas hingga maksimum tiga jam, kami terpaksa berpindah-pindah tempat parkir hingga jam 7 malam. Yah, hitung-hitung menjelajah kota Salzburg dengan mobil.

Jika sempat, anda dapat berkendara ke Oberndorf, desa di dekat Salzburg di mana lagu Malam Kudus diciptakan. Gereja tempat diciptakannya lagu itu pun masih berdiri di pusat desa ini, dan saat ini sudah dilengkapi dengan museum.

Baru pada malam harinya kami dapat menjelajah kota tua Salzburg dengan berjalan kaki.

Kami adalah penggemar berat film “The Sound of Music”. Daripada membayar mahal untuk mengikuti “guided tour” Sound of Music dengan terburu-buru, lebih baik kami mengunjungi tempat-tempat tersebut sendiri, hanya dengan bermodal peta. Esok harinya kami bangun pagi pagi sekali untuk berjalan pagi sekitar biara Nonnberg di puncak bukit. Biara ini adalah tempat Maria von Trapp (dari film Sound of Music) belajar untuk menjadi biarawati. Di tempat ini pula adegan biara di dalam film Sound of Music direkam. Dari biara ini kami dapat melihat pemandangan kota Salzburg. Kami lantas berkendara menuju istana Leopoldskron, yang digunakan sebagai rumah von Trapp di tepi danau dalam film yang sama. Tak lupa kami mengunjungi istana Mirabell, di mana adegan “Do-Re-Mi” direkam. Keadaan taman istana itu masih persis seperti di dalam film.

Selain itu, kami pun mengunjungi Museum Rumah Mozart. Pengunjung museum ini dipinjamkan alat yang akan memberikan narasi sejarah hidup Mozart dan memainkan musik-musik Mozart, sehingga kunjungan ke museum ini sangatlah menambah pengetahuan musik klasik dan tidak hanya sekedar menikmati barang-barang yang dipamerkan.

Salzburg pun tidak mesti mahal. Ternyata, banyak konser gratis baik di taman maupun gereja-gereja yang bisa dinikmati. Bahkan pengamen pun bermain musik dengan sangat baik. Selain itu, kadang kala ada pasar kaget di lapangan terbuka, biasanya di dekat gereja. Di sana, kita bisa menemukan berbagai jajanan tradisional dan barang-barang antik yang murah.

Sorenya kami pun kembali ke Wina untuk kemudian terbang pulang. Terasa sedih meninggalkan pemandangan indah pegunungan Austria dan keramahan orang-orangnya. Dengan jelajah hemat ini kami juga belajar banyak mengenai sisi-sisi tersembunyi Austria yang tidak banyak dikunjungi oleh turis-turis pada umumnya. Termasuk masakan tradisionalnya, yang kini menjadi favorit kami!


Tips Jelajah Hemat

  • Manfaatkanlah jaringan saudara atau pertemanan untuk mendapatkan akomodasi yang lebih murah. Namun jangan lupa untuk membawakan mereka oleh-oleh dari Indonesia
  • Gunakanlah buku panduan jelajah hemat seperti Lonely Planet atau Rough Guides dalam perjalanan dan dalam merencanakan perjalanan.
  • Bawalah barang sesedikit dan sepraktis mungkin. Bagasi besar dapat menghambat perjalanan anda. Anda dapat mencuci baju sedikit-sedikit selama perjalanan (dan mengeringkannya di atas heater).
  • Apabila ada, bawalah kartu pelajar (biarpun anda mahasiswa pasca sarjana), kartu ini seringkali berguna untuk mendapatkan berbagai diskon.
  • Jangan lupa menukar uang Euro dan membeli asuransi perjalanan sebelum berangkat.


Website Berguna


Profil Penulis
Rani + Indi Soemardjan adalah pasangan Indonesia yang berdomisili di Singapura. Catatan perjalanan mereka dapat dibaca di www.indrani.net


Resep: Leberknoedelsuppe
(Sup Bakso Hati Sapi Austria)

untuk 4 orang


Bahan:

  • 200g Hati sapi – cincang atau blender
  • 1 butir telur
  • ½ cangkir susu segar
  • 5 buah roti bulat (Kaiser roll) kalau bisa yang sudah lama kering (tapi tidak basi) – hancurkan atau cincang
  • tepung panir / terigu (3 sdm atau secukupnya untuk membuat adonan mudah dibentuk)
  • 1 butir bawang Bombay – cincang
  • sedikit peterseli cincang
  • sedikit mentega
  • sedikit parutan kulit lemon
  • garam, merica, pala, marjoram secukupnya
  • kaldu sapi berbumbu untuk sup



Cara Membuat:

  1. Rendam hancuran roti di dalam susu segar
  2. Sementara itu tumis bawang Bombay dan peterseli di dalam mentega
  3. Campurkan semua bahan termasuk tumisan sehingga menjadi adonan yang mudah dibentuk. Apabila adonan terlalu encer, tambahkan tepung panir atau terigu secukupnya.
  4. Bentuk bulat-bulat seukuran bakso kecil dan masukkan ke dalam air mendidih, angkat apabila sudah mengapung atau matang.
  5. Sajikan hangat dengan dimasukkan ke dalam sup kaldu sapi.



*Resep diadaptasi dari http://www.elook.org/recipes/european/27867.html

Comments

Good stuff...

You have the potential to become a really good writer. I've always wanted to go to Salzburg and Vienna. I only got a glimpse of Austria during my train ride from Munich to Rome last June.

Well done,Rani! It's very

Well done,Rani! It's very interesting article you wrote. Lots of useful tips. And descriptive.

backpaking again

Thanks Rani for the story of backpacking. Love to go sometimes..

austria

pa kabar mbak....
oya saya mo nanya ne, berapa se ongkos pergi keautria tuh....
dari indonesia pastinya, tolong dibales ya mbak...

anang

wah kalo dari indonesia..

kalo dari indonesia saya ga tau tuh pak.. soalnya saya tinggalnya di singapura.. maap yaa

go to america

hi i want you if you dont main help me to get my driam its live in america i can do what you want me to do for this i mean anu thing i dont care just help me iam suffer her pls beilive me thats all and thank you so much

G penting!!

G penting!!

Hai Rani,Salam kenal dari

Hai Rani,
Salam kenal dari Venezia; kapan-kapan mampir kemari - jelajah Italia murah meriah bersama aku:)))
Kalau lagi iseng, aku juga motor-an ama cowoku ke Austria. Dia punya scooter gede (500cc) jadi bisa lintas autostrada Eropa.
Saranku, kapan-kapan kalau ke Eropa sewa motor aja karena jauh lebih murah dan mudah untuk parkirnya:) Tapi jangan lupa untuk cek cuacanya juga!

wisata murah ke salzburg

halo rani salam kenal ...aku dan suamiku pengin ke daerah pedesaan di pinggiran salzburg, kalo boleh tahu gimana sih caranya nyewa penginapan murah / rumah petani di pedesaan tyrol? ada address atau email yg bisa dikontak utk sewa kamr di rumah petani itu? untuk informasinya terimakasih sebelumnya.
Bertha-Germany

hi bertha! salam kenal aku

hi bertha! salam kenal

aku dulu booking online di website http://tiscover.at

atau bisa juga kontak langsung sama yang punya namanya bu Sienglinde
Leiter dan pak Bernhard Leiter.

Familie Sieglinde Leiter
Niederthai 40
A-6441 Niederthai, Österreich
Tel.: +43(5255)5123
Fax: +43 (5255) 5123
WWW: http://www.tiscover.at/laerchenwald

ok semoga membantu

Wah, segalanya susu ya?

Segalanya dengan ramuan susu. Adakah kerana susu membuat otak mereka ligat dan cergas?
Tak disangka ya Bakso juga terkandung susu di dalamnya. Nice recipe. Akan dicoba.

Interesting Story

Thanks for sharing your stories with us. Keep them coming your writing style is captivating!

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.