Engdonesia 2

rani's picture

Tulisan Nirwan Dewanto dalam Tempo berhubungan dengan tulisan saya yang lalu tentang Engdonesia

Nirwan Dewanto
KAP ATAU KON, MAL ATAU MOL

Di restoran itu saya hendak memesan makanan, ketika mata saya tertumbuk pada sebuah papan putih di belakang kasir.

BROCOLLY—OUT OF ORDER

Saya mengerti. Tapi saya tak berlagak seperti guru bahasa Inggris. Anggaplah salah-tulis di situ bagian dari humor. Tetaplah saya mengerti apa maksudnya: sayur kegemaran saya, brokoli, atau broccoli, sudah habis. Dan out of order itu bukan berarti rusak (begitu arti kamusnya), namun tak bisa dipesan lagi.

Menginggris tampaknya sebuah kemestian. Maklumat itu keliru, namun setiap pengunjung restoran paham, dan tak merasa rugi pula.

Seusai makan sekenanya, saya beranjak ke gerai es krim tak jauh dari situ. “Teh hijau,“ kata saya

“Oh, grin ti, Pak,“ kata bujang pelayan itu, dengan logat Jawa. (Jelas, dia sedang mengucapkan kata-kata

“Ya.“

“Kap atau kon?“ tanyanya lagi.

“Contong,“ kata saya.

Dia tak mengerti maksud saya. Lalu saya menunjuk apa yang saya mau.

“Oh, kon,“ katanya sambil tersenyum.

Ketika saya melenggang sambil menyeruput es krim, telepon seluler saya bergetar. Pada layar saya baca pesan mahapendek: gw otw home, seems u r so bz, 2nite gw ktm nyokap, c u

Mungkin anda sudah tahu, inilah yang mestinya tertulis lengkap: gu(w)e on the way home, seems you are so busy, tonight gu(w)e ketemu nyokap, see you

Itulah yang terjadi pada suatu hari dalam hidup saya di sebuah mal—atau mol? Ya, bagaimana harus menulis kata itu? Dalam bahasa Inggris, mall. Shopping mall. Sopir saya mengatakan soping mol. (Bagaimana kita mengindonesiakan kata Inggris—menurut ejaan atau ucapannya?) Hampir semua
plakat berbahasa Inggris. Juga di jalan-jalan. Biarpun tak sedikit yang nekad. Setahun lalu, di mal yang lain, di sebuah gerai pameran perkakas kayu, saya baca SPECIAL OVER. Tentu maksudnya special offer.

Menginggris itu keren. Banyak yang percaya, pasar menghendakinya. Ini zaman globalisasi. Tepatnya, Anglo-globalisme. Bicaralah seperti pembawa acara di MTV. Inggris gado-gado. Keliru tak mengapa, asalkan pemirsa
paham maksudmu.

Sebab bahasa Indonesia, konon, tak bisa mengutarakan kenyataan baru. Bahasa yang kuna, pun kampungan.

Pernah saya coba membaca sebuah novel remaja, teen lit, dan inilah yang ada di halaman pembuka, “To my Lord Allah swt. Thank God all about the precious gift inside of me. Its hard to believe that I have some guts!! Buat Mr. Right di rumah alias McAfee, yang udah ngerelain penulis ngabisin tinta komputernya buat nge-print novel ini, thanks Dad, I Luv
y!!...“

Maka saya seperti hidup di planet lain.

Namun teman-teman saya di lingkungan kesenian dan pemikiran tak ketinggalan. Untuk contoh ekstrem, saya kutip sepenggal ulasan teater dari sebuah koran utama bertiras besar, “Jika diskursivitas cenderung pada narsisisme pikiran, maka narasi empatis dalam kritik akan mencairkan kemampatan dan koersivitas opini, dengan cara terus mengayuhkan seluruh
muatan nalar dalam tulisan ke wilayah ayunan leksikalnya, untuk menunjukkan kekenyalan dan keleluasaan imajinatif tulisan...“

Penulisnya pasti takut kelihatan bodoh. Ia mengira, semakin banyak jargon—meski jargon yang meleset—makin berbobotlah tulisannya. Atau ia tak mahir berbahasa Indonesia—juga Inggris.

Begitu banyak penulis, seakan tak percaya akan keampuhan bahasa Indonesia, mencantumkan padanan Inggris dalam tanda kurung untuk frase yang digunakannya. Saya petik, misalnya, dari sebuah artikel tentang lingkungan belum lama ini: “keakuan diri (selfishness)“, “etika terhadap lingkungan (environmental ethics)“, “ketidakacuhan fatalistik (fatalistic
indifference)“.

Diam-diam pula, dalam bahasa kita tersebarlah beberapa kata yang seakan-akan dipungut bahasa Inggris. Apa itu kasuistik, koneksitas, personafikasi, estetikasi, pipanisasi, puitisitas, konsumtivisme, kritisisme, dan rutinitas, misalnya? Itu benar-benar bikinan orang kita.

Kalaupun terlihat serupa dengan Inggrisnya—dalam hal kasuistik dengan casuistic, misalnya—maka artinya sudah berbeda sama sekali.

Bahasa (dan) bangsa kita mendunia dengan menginggris? Meski dengan semu belaka?

SAVE OUR NATION, kata sebuah judul acara di satu televisi swasta kita.

Mungkin untuk menyelamatkan bangsa, kita pun harus menggunakan bahasa Inggris. Namun para pembicara dalam acara itu tetap saja berbahasa Indonesia. Dan memetik sejumlah kata Inggris anyway. ***

Comments

engdonesia?

well, gini loh, we are bangsa global you know? we is citizen dunia! cannot lah we not joint! you not joint which is you are in behind. gitu loh. A, B,C,D,E! (aduh boo cape deh eike!)
-----
gimana ya? sebenarnya ada masalah mendasar disini bahwa peng-indonesia-an istilah itu tidak mengikuti suatu kaidah yg baku. Kalaupun mengikuti kaidah yg baku, kaidah2 itu kurang tepat (mal = mol?) Tidak jelas apa yg hendak di capai, apakah pengindonesia-an itu hanya mengejar penyamaan suara (homofonik) atau peniadaan konsonan ganda?
Masalah kedua, khasanah istilah bahasa Indonesia ternyata miskin. Tidak cukup cepat depdikbud menciptakan istilah2 baru untuk mengejar semua istilah yang berasal/berdasarkan teknologi (download = mengunduh/unduhan). Pada tahun 1986-87 Malaysia menggandeng IBM dan Microsoft (kalau tidak salah) untuk membentuk sistim informasi dan basis data istilah istilah Melayu. Tidak terlupakan tata cara yg konsisten dan tepat guna untuk menyerap atau menterjemahkan istilah asing.
Karena kekurangan inilah akhirnya warga Indonesia yang sangat kreatif akhirnya menciptakan bahasa sendiri (bahasa gaul, prokem dan tidak lupa bahasa engdonesia itu) untuk memperlancar proses komunikasi yang setiap saat berkembang dengan tabiat2 baru.

sekian pendapat saya dan salam.

bahasa tulis dan bahasa gaul

Rani,

Ada perbedaan besar antara bhs tulis dan gaul. Saya sering mengalami kesulitan untuk menemukan kata dalam bhs Indonesia yang tepat untuk memberikan ekspresi selayaknya bhs Inggris. Saya lebih suka berimprovisasi terutama menemukan bentuk2 padanan kata yang pas.

Dalam beberapa terjemahan artikel yang saya lakukan saya bahkan cenderung mengurangi kompleksitas bhs inggris untuk membuat enak dibaca dan didengarkan (resonansi baca) daripada kalimat kompleks yang cenderung menyamarkan isi/pesan. Bahasa kan intinya memang untuk menyampaikan pesan.

Saya juga berusaha disiplin dengan menulis dlm bhs Indonesia atau Inggris tanpa mencampur-campurkannya. Saya baca tulisan Rani terdahulu dan menurut saya bagus sekali untuk membangunkan kesadaran berbahasa Indonesia sesuai tempat dan situasi.

Bahasa Gaul

Rani:

Kebetulan saya lagi libur (Thanksgiving) dan berkesempatan membaca artikel Rani tentang “Engdonesia” beserta beberapa response-nya. Saya pribadi memang tertarik dengan bahasa sekalipun bukan terdidik dalam bidang ini. Hanya karena sejarah pendidikan dan pekerjaan maka saya mengerti empat bahasa.

Khususnya mengenai bahasa Indonesia, terus terang baru sekarang saya mendengar istilah “bahasa gaul”. Kesan saya adalah bahwa apa yang dinamakan “bahasa gaul” ini adalah –maaf- keterpurukan atau keberantakan dari perkembangan bahasa Indonesia. Salah seorang penulis dalam “blog” anda mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang “kuna” adalah bahasa “kampungan”. Apakah penulis tersebut menganggap bahwa “bahasa gaul” adalah bahasa “modern” dan bahasa “kota”?

Semua bahasa didunia mengalami perubahan seiring perubahan waktu. Bukan hanya bahasa, DNA pun mengalami perubahan. Sebagai contoh adalah bahasa Inggeris, Jerman dan Belanda. Kalau kita membaca publikasi Dr Robert Koch yang terkenal dengan Koch postulat, nyata sekali bahwa bahasa Jerman tahun 1900 berbeda dengan tahun 2006. Demikian juga bahasa Inggeris di UK sendiri maupun di Amerika. Tetapi perubahan kedua bahasa tersebut tidak separah seperti lahirnya “bahasa gaul”. Lahirnya “bahasa gaul” yang mencampur adukan istilah Indonesia dan Inggeris - menurut saya – disebabkan salah satu faktor kebingungan karena tidak menguasai bahasa Inggeris.

Kita tidak akan bisa mencapai tingkat “globalisasi” dengan menciptakan “bahasa gaul” yang “tidak kuna” dan “modern” ini. Kalau banyak diantara kita menganggap bahwa bahwa bahasa Inggeris sudah “mendunia” atau menjadi “Lingua Franca” maka kita harus meggunakan bahasa Inggeris yang benar dan bukan dengan menciptakan bahasa yang dasarnya timbul dari frustasi. Lihat saja keadaan di Indonesia sampai hari ini: berapa banyak para dosen atau professor di Indonesia yang bisa menulis scientific paper dalam bahasa Inggeris untuk dipublikasikan di peer-reviewed journal ilmu pengetahun ditingkat internasional. Kalau ingin tahu lebih lanjut lihat saja di Pubmed database.

Belum lagi penyakit singkatan yang terus terang sudah chronis. Tahun 1976 pernah saya pulang ke Indonesia dan membaca istilah “rudal” disalah satu harian. Kebetulan saya lagi bertamu keteman seorang guru bahasa Indonesia. Terus terang waktu itu saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “rudal” Untuk membuat cerita ini jadi pendek, saya tanyakan dimana aturannya untuk membuat singkatan “rudal” Argumentasi saya: mengapa tidak disingkat “pelken”, “ruli”, “luken, “peli” ” dan sebagainya. Jawaban beliau adalah …………………………………LEBIH ENAK DISEBUT RUDAL. Mungkin ini identik dengan “euphonic” nya dalam bahasa Inggeris.

Singkatnya: saya tidak anti untuk melihat perkembangan bahasa Indonesia seperti bahasa lainnya. Hanya saja perkembangan bahasa Indonesia yang menjurus ke apa yang dinamakan “bahasa gaul” – sekali lagi maaf – kurang mendapat simpati dari saya. Saya akhiri komentar ini dengan permohonan maaf kalau bahasa Indonesia saya ini “kuna” dan “kampungan”. Harap dimaklumi bahwa bahasa Indonesia saya adalah bahasa angkatan tahun enam puluhan.

indonesia-inggris..inggris-indonesia

Baca tulisan mba make me smilee :)..yuppzz kadang tanpa sadar kita sering mencampur adukkan berbagai bahasa baik dalam obrolan dengan temen ato kadang sering gw temuin di novel-novel yang gw baca. Gw ga masalah kalo novel yang gw baca itu ada campur aduk bahasa laen, gw seneng bisa dapat "sesuatu" yang ga gw tau.
Menurut gw seh mba itu kagak salah yee itung-itung kita melatih bahasa yang kita kuasai asalkan lawan bicara kita juga ngarti.
Di kota gw (Manado) bahkan bukan padanan kata inggris ajah yang jadi diindonesiakan beberapa kata dari bahasa Belanda juga digunakan loh mba di kota gw tapi mo gimana lagi itu dah dari sononya tapi ga mengurangi rasa cinta kita terhadap tanah air kita.
Kita gunain bahasa asing bukan berarti kita ga nasionalis kan. ^^
ga bisa kita pungkiri warga indonesia adalah warga yang kreatif. ^^

*cheers*

perkembangan bahasa

Beberapa bulan yang lalu ditayangkan di TV sini ada beberapa istilah baru dalam bhs Inggris, saya agak lupa detailnya, dan istilah2 tsb dipakai dalam pergaulan.

Pemilihan Bahasa Menunjukkan Naluri Seseorang

Bahasa gaul adalah bahasa pergaulan, artinya bagi saya adalah bahasa yang digunakan untuk ngomong-ngomong. Rasanya akan janggal banget jika ada yang menyebut dirinya "guwe" saat ngomong-ngomong sesama spesies orang kuno dan kampung. Begitu pula, entah bisa diterima akal ataukah tidak, pada kenyataannya secara naluriah banyak yang merasa risi banget jika ada teman yang tak sengaja menyebut teman lain dari spesies orang kuno dan kampung dengan "lu".

Tentu saja semuanya sah-sah saja, baik yang ngomong lu-guwe, yang merasa janggal ataupun risi banget. Lhah mau gimana lagi, semuanya naluriah dari sononya. Paling-paling jadi bahan ketawaan sementara saja, misalnya "Eh! Si A tadi dipanggil dengan lu oleh si B lho..".

Kalo untuk ngomong-ngomong bukannya saya nggak mau ikut-ikutan trend remaja perkotaan tapi rasanya aneh saja ngomong-ngomong dengan lu-guwe, apalagi kalo yang diajak ngomong berhadapan langsung. Meskipun begitu, saya tidak anti lu-guwe dan saya punya cukup nyali buat chating atau ngimil.

Mirip-mirip demikian jugalah kata-kata asing seperti Dad, Mom, Bro, Sus, dsb. Dulu sewaktu mahasiswa sih, kalo kita tahu ada keluarga yang begitu maka akan jadi bahan ketawaan temen-temen satu kontrakan. Namun sekarang lama-lama saya terbiasa juga dan saya anggap itu semua naluriah.

Begitu juga kepedulian untuk lebih memprioritaskan penggunaan Bahasa Indonesia dibandingkan bahasa-bahasa lain menunjukkan naluri seseorang. Tidak ada yang salah dengan naluri, seperti halnya setiap orang sah-sah saja menyenangi musik klasik, jazz, dangdut, dsb.
Dengan mengetahui atau merasakan naluri lawan bicara, maka kita pun bisa lebih mengira-ngira bagaimana sepatutnya kita berkomunikasi dengannya.

Engdonesia?

Hahahah... lucu tulisannya Ran, emang suka salah kaprah ya orang kita ngomongnya campur2. Eh waktu itu ada lho, salah satu selebritis lokal indonesia, yg justru memporakporandakan tatanan bahasa inggris didepan umum... dia bilang: "who do you think he are?" yang sekarang malah jadi judul blog buat mencela2 artis2 indonesia... hehehe... cek deh blognya... lucu

Nirwan Dewanto!

Ya amplop, Nirwan: The name from my previous life!
Kalo kebaca, contact donk....

Tengkyu..
Joanna

Bahan-bahan buat presentasi

Mba Rani yang cantik kebetulan saya ada tugas buat presentasi dan temanya itu ENGDONESIA.. Nah kendalanya adalah saya sangat awam tentang ENGDONESIA ini sendiri.. Malahan saya baru denger istilah ini. Mungkin Mba Rani yang cantik mau membantu saya apa aja bahan dasar untuk tugas saya yang satu ini..

Saya sangat berterimakasih sekali jika saya dipedulikan oleh Mba..

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.