My crazy mind immediately composed a conspiracy theory, that he might be arsenic poisoned (constantly vomiting is one of the symptom), by people who do not like him. But as news in detik.com shows, death of natural cause is also possible, because he has been dealing with liver problems these past few years.
I was a bit disappointed by his decision to become Amien Rais campaign manager, since I do not really trust Amien’s political moves ( a lot of inconsistency in Amien’s statements). But I guess his point is acceptable, that Amien Rais + Siswono is the ‘cleanest’ candidate among others.
Anyway, this news triggered me to dig out my past chat archives with Munir (for those who hasn’t known me, I kept all my chatting archives since 1996). I knew Munir since I interviewed him about the missing activists who are kidnapped by Suharto Regime, when I was working for Jeremy. Too bad, since then, I never met him again in person, only twice I did chat with him in 2001 and 2002.
This is some of what Munir shared with me on 17 Nov 2001:
Munir:
mau ambil master ? dimana ? dan bidang apa?Rani:
bukan master.. hanya short course enam bulan.. studi asia pasific gitu di east west center Uni of hawaiiMunir:
wah boleh juga itu. Tapi lebih mantap kalau berupaya ambil master. Mumpung masih muda. Muda ngak pernah datang dua kaliRani:
iya nih insya allah juga, short course ini selesai tepat sebelon fall 2002, mungkin bisa langsung (kalo bisa ya beasiswa)waaaaaa kapan kawinnya nih sekolah muluMunir:
kawin itu bukan cita-cita, tapi sesuatu yang datang sendiri dan nggak bisa dihindari. Dia bagian tertua dari peradapan, ia bagian dari seni, dan biarlah dia datang menurut alurnya.Rani:
jadi sekolah dan kawin itu bukan dua rencana berbeda, tapi kawin sendiri udah integrated sebagai alur hidup yang gak usah terlalu di-ngoyo-in tapi juga gak dihindari?Munir:
Iya dong, sekolah itu sesuatu yang ada dalam perencanaan bagi ujud diri sebagai manusia dalam peradapan. Pendidikan adalah upaya membangun peradapan. Ia harus direncanakan dan diperjuangkan. Soal kawin lain lagi, dia ada dalam realitas yang berbeda. Dia datang ketika cinta dan kontraktual untuk bersama ditemukan. Jadi ia akan datang sendiri dan kita temukan dimana dunia peradapan yang terencana itu dijalankan.Munir:
Kata-kata Gandi tentang cinta : “kalau orang mesih berhasil menulis lewat huruf hiroglif, maka cinta akan menulis dalam pilihan ruang kebenaran yang tidak terjamah“. Nah jadi cinta dan perkawinan itu bukan soal fisik (jamah) tapi kebenaran dalam kejujuran menmukan kesesuaian. Ok jangan berdoa untuk dapat jodoh, tapi berdoalah untuk kebenaran. Karena disitu cinta akan ditemukanMunir:
saya pernah jatuh cinta pada seorang gadis yang secara rasional nggak mungkin saya dapat bertemu dia, karena kami hidup dalam latar belakang yang sama sekali berbeda. Kini dia jadi istri tercinta, dan dia adalah kekuatan bagi kehidupan saya yang jauh lebih kuat dibanding jatuh bangun saya untuk belajar ilmu pengtahuan atau lainnya. Cinta itu hebat, bahkan lebih hebat dari dunia perkawinan ituMunir:
Doa adalah bagian penuturan cinta pada sebuah cita-cita yang belum kita capai. Dia bukan urusan tuhan, tapi urusan manusia. Dan tuhan ada pada berapa besar rasa cinta kita akan kebenaran itu. nah berdoalah dengan cinta, tapi jangan berdoa untuk cintaRani:
bagaimana cinta bisa mengalahkan rasionalitas?Munir:
Cinta itu dalam dirinya mengandung sebagian kecil rasionalitas, tapi penuh dengan benih rasa yang tidak perlu dihitung secara matematik mengapa dia ada. Meskipun cinta kadang harus diterima secara rasional, kapan ya kita lihat nanti dalam kehidupan individual kitaMunir:
Dalam kultur tua manusia, ada semacam budaya manipulatif yang meniadakan cinta. Lebih saja cerita siti nurbaya atau Gadis pantai, atau dalam novel pengakuan pariyem. Dalam dunia itu, seolah cinta dibatasi kelas sosial, agama, ras, etnis dst. Itulah manipulasi yang saya maksud dari kalimat umum tentang memilih cinta dengan rasionalitas.Munir:
Rasionalitas umum tentang cinta, seolah harus dipenjara oleh ukuran ideal tentang perkawinan. Idealitas itu sering terkait dengan ukuran fisik (positifis), mungkin ekonomi, kemapanan, ketaatan agama dst.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.